Site icon

Pengalaman Travelling ke Jepang Menikmati Sakura (part 1)

Enjoying the old town, Takayama

Setelah tertunda cukup lama, akhirnya datang juga kesempatanku untuk menceritakan pengalamanku menjelajahi Jepang, yang dikenal sebagai negara Matahari Terbit , dengan bunga kebanggaannya, bunga SAKURA.

Terima kasih untuk mbak Marita Ningtyas  seorang ibu 2 anak yang sedang lucu-lucunya dan mbak Dini Rahmawati , seorang blogger cantik nan lucu kesayanganku dari Temanggung yang sudah bikin topik  TENTANG YANG PERTAMA.
Dijamin seru banget! Seseru poseku diatas saat Enjoying the old town, Takayama.
Tulisan ini akan aku buat berseri ,jadiiii…Ikuti terus yaa….Sudah lama sekali aku memimpikan untuk berkunjung ke Jepang, tetapi baru bisa terlaksana sekarang.
Aku memang kagum berat dengan kebudayaan bangsa Jepang, kedisiplinan, dan etos kerjanya yang penuh dedikasi dan menjunjung tinggi kejujuran.
Travelling kali ini aku masih saja memakai “ala koper” alias memakai jasa Tour and Travel, bukan “ala ransel” alias backpackeran.
Adikku yang mengurus segala tetek bengek persiapannya , karena kebetulan dia posisinya di Jakarta yang memang lebih mudah mengurus perjalanan ke luar negeri.“Mbak, uang segini bisa ke Eropa 2x nih, mbak,…” kata adikku memberi pertimbangan.
“Ga,papa,…ke Eropa kan kita sudah pernah, ke Jepang yang belum, urus aja” kataku.Memang , rata-rata budget berwisata ke Jepang apalagi memakai jasa tour biasanya lebih mahal daripada kalau kita ke Eropa.
As we know, karena Jepang memakai politik dumping.

Apa itu? 
Sedikit menengok sejarahnya, Setelah Perang Dunia l selesai, kaum Industriawan Jepang (Zaibatsu) dan kaum militer yang tergabung dalam Departemen Pertahanan Jepang (Gunbatsu) sangat berpengaruh terhadap kehidupan politik. Tidak pelak lagi hal itu akan mendorong Jepang melaksanakan politik imperialismenya. Untuk merebut pasaran di Asia Pasifik, Jepang melaksanakan politik dumping (menjual barang-barang impor di bawah harga di dalam negeri). Politik dumping dapat berjalan karena barang diproduksi secara besar-besaran sehingga ongkosnya menjadi lebih murah. Disamping itu, Jepang juga melaksanakan politik proteksi yang ketat untuk melindungi barang hasil dalam negeri. Barang Jepang dijual dengan harga tinggi di dalam negeri. Keuntungan yang diperolehnya digunakan untuk menutup kerugian penjualan di luar negeri.


travelling ke jepang
Yang perlu diketahui dulu tentang Jepang.
Aku pergi bersama keluargaku, ini makan siang dulu di terminal Ultimate Soetta
Makan nasi lemak biar lemak-lemak luntur di Old Town. (Asli ngarang)
Waiting for flight to Osaka @Ultimate Garuda Terminal

Ga heran, merencanakan berlibur ke Jepang cukup membuat aku menyisihkan anggaran lebih besar, karena harga barang, transportasi dan makanan di Jepang lumayan tinggi dibandingkan dinegara Asia lainnya khususnya.
Biro Tour yang kupakai setiap kali aku berlibur biasanya selalu yang memiliki spesifikasi dan fasilitas tertinggi yang ditawarkan dibandingkan tour-tour yang lain.
Alasannya,karena aku dan keluargaku punya prinsip bahwa kita mau berlibur, mau bersenang-senang, ya harus total, jangan setengah-setengah. Karena siapa tau ini adalah kesempatan pertama sekaligus terakhir, sehingga harus dikondisikan senyaman dan seberkesan mungkin.

Dan benar saja, ketika aku mencoba membandingkan pengeluaran saat berlibur ke Amerika Serikat(West Coast) meliputi Hawaii, San Fransisco, Hollywood, Los Angeles, Las Vegas, San Diego, Anaheim, atau bahkan ke Eropa yang meliputi 9 negara (England, Italy, Rome, France, Nederland, Belgium,dll) kok ya tetep lebih mahal ke Jepang ini..huhuhuhu… #brakotdoraemon
That’s why, ini opsi berlibur terakhir setelah menjelajahi Eropa dan Amerika terlebih dahulu.
(Ini menurut versiku ya, mungkin akan berbeda kasus dengan orang-orang yang tidak menggunakan jasa tour).

Okay, kita lanjutkan persiapannya.
Tour di Jepang kali ini sengaja aku pilih di bulan Maret-April, karena pada saat itulah bunga-bunga Sakura mulai bermekaran tanda dimulainya musim semi menuju ke musim panas.
Biasanya ketika sakura mulai blooming, ditandai dengan bermulanya tahun ajaran baru bagi anak-anak sekolah di Jepang.
Jadi ngebayangin bakalan ngeliat betapa cantiknya kerumunan anak-anak TK dan SD dengan tas punggung kaku berbentuk kotak ala Nobita itu berbondong-bondong pergi ke sekolah dikawal bunga Sakura yang mulai bermekaran.
Sekitar bulan Januari 2017 , aku sudah mengurus jadwal keberangkatan di BiroTour yang kupilih.
Mereka juga menguruskan visa ke Jepang yang berlaku selama 2 minggu kalau tidak salah.
Fasilitas tour itu meliputi transportasi menggunakan pesawat Garuda pulang-pergi (transit dulu di Bali) , hotel bintang 4/5 , bus tourist dan bisa naik kereta Shinkansen kalau menginginkan. (optional).
That’s why ,tour di saat musim semi alias Spring seperti ini biasanya memang paling mahal dibandingkan musim-musim yang lain, karena banyak sekali destinasi favorit yang mengekspose keindahan sakura yang hanya mekar 2 minggu saja!  sepanjang tahun.
Tak heran orang-orang dari seluruh dunia ingin menikmati suasana sakura bermekaran di negara yang memiliki simbolnya.

Tujuan wisata di Jepang banyak sekali yang menarik.
Berkeliling Tokyo saja tidak cukup hanya 2 minggu, apalagi tempat-tempat lainnya.
Kali ini karena aku cinta dengan kebudayaan dan arsitektural ala Jepang, aku memilih mengunjungi kota-kota cantik dengan sentuhan Jepang tempo dulu seperti Kyoto
, Takayama dan Shirakawago, yaitu sebuah tempat yang sangat kuimpikan sejak kecil.

Ceritanya begini,…
Saat itu aku masih duduk di bangku SD kelas 4. Siaran televisi masih TVRI dan belum ada tivi komersial.
Aku menonton sebuah acara yang meliput kebudayaan masyarakat dunia.
Ada sebuah desa di kaki gunung di Jepang yang sangat memegang erat nilai-nilai tradisional.
Mereka menjunjung tinggi semangat gotong royong termasuk penggantian atap setiap 40 th sekali!
Karena desa itu didekat gunung, bisa dibayangkan, salju disana paling lama meleleh.
Itulah sebabnya, atapnya dibuat dari jerami yang tebalnya hampir 1 meter.
Dan tidak disangka-sangka, ketika aku sampai didesa itu, perasaan takjub dan terharu berkecamuk didadaku.
Sudah 30tahun gambar ditelevisi itu hanya bisa singgah dipikiranku, kini semua itu tampak nyata didepan mataku.Huwaaa..mammiiii..aku berkaca-kaca! Akhirnya aku bisa ke tempat yang seindah ini.(Tunggu kisahku yang  satu ini, menakzubkan!)

Visa dan tiket ke Jepang

Back to the beginning…
Aku naik pesawat dari Jakarta menuju ke Osaka dengan transit di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali dulu sekitar 2 jam.
Perjalanan Denpasar-Osaka kutempuh selama 7 jam menggunakan pesawat Garuda.
Makanannya yummy…cocok dengan lidahku lah pokoknya.
Karena ini perjalanan menuju ke Jepang, ada beberapa pramugari asal Jepang juga yang wira-wiri melayani para penumpang.
Tentu saja, karena sebagian penumpangnya juga banyak yang berkebangsaan Jepang, dan pramugari itu juga memberikan salam lewat pengeras suara dengan bahasa Jepang bagi sebagian besar penumpangnya saat pesawat take off maupun landing.

Sampai di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali sekitar jam 8 malam
Menu di pesawat Garuda menuju Osaka
Sampai di bandara Kansai-Osaka yang duinginnn, ini aku pake baju 3 lapis.
Beli di HnM dan dilapisi heattech dari Uniqlo didalam sweater.
kostum yang ringan yang cocok untuk dibawa ke Jepang saat musim semi

Sampai di airport KIX alias Kansai-Osaka, udara dingin menggigit tulang.
Biasa syumuk di Indonesia, angin dingin tiba-tiba menyergap persendian membuat kulitku makin kering kerontang.
Untung ada brondong-brondong Jepang yang imyut2 menyambut kedatangan wisatawan seperti kami sambil membagikan snack ala Jepang.
Asyeeekkk…#boleh tak bawa pulang ga,kamu brond? hush! *lemparbakiakOshin.

Sampai di Osaka, lafeerrrr cuyyy!

Yang ingin tahu vlognya, silakan intip videonya dulu disini.
Sengaja aku pilih soundtrack Tokyo Love Storynya ,Rika Akana yang dulu booming banget sebagai dorama alias drama ala Jepang jaman aku SMA.
Tau kaaaah?
(Ga tau rugiii,.. :D)

Tunggu kisah selanjutnya di KE JEPANG PART 2 YA!
Dijamin lebih seru dengan tips2 bermanfaat buat kamu yang berencana ke Jepang juga …don’t miss it tomodachi!



Exit mobile version