Menulis Blog Ternyata Masih Kurindukan Setelah Mengingat Kilas Balik ke Tahun 2016
Tema ultah Gandjel Rel kali ini cukup menggelitik. Menggelitik hippocampus alias rongga ingatan masa laluku tentang apa yang terjadi 10 tahun lalu berkaitan dengan dunia perbloggingan. Seolah-olah Komunitas Gandjel Rel sengaja “menyengat” cortex dikepalaku supaya tersadar “Woyyy, jare blogger , kok ora tau nulis woyy!” *toyor.
Berdasarkan woro-woro digrup Komunitas blogger Semarang yang sudah membersamaiku selama hampir 11 tahun, jelang ulang tahunnya tanggal 22 Februari nanti . Ada challenge untuk bikin blogpost dengan tema yang sedang tren tentang #2016 , jadi seperti throwback gitu, berkaitan dengan blogging. Weladalah, ini kan ya harus ngubek-ngubek , 10 tahun lalu aku sudah ngapain aja didunia perbloggingan?
Sepertinya memang tulis-menulis lewat media blog sudah sering kuabaikan setahun terakhir ( kok setahun terakhir? Sadar woyy, lebihhh). Selalu saja ada sesuatu yang mendistraksi, macam “setan” yang mengiming-imingiku untuk malas menulis blog, tapi malah lebih “tergoda” untuk nonton Netflix (hasyah). Setan memang selalu jadi tempat ‘salah-salahan’ paling aman, padahal memang aku sendiri yang memang “kakeyan alesan”.
Kenyataan Pahit Yang Harus Ditelan Dalam Dunia Penulisan Blog
Sepertinya ini cuma kenyataan pahit yang kurasakan saja. Entah, apakah kalian para penulis atau blogger merasakan perasaan yang sama sepertiku . Ini juga mungkin beberapa faktor yang menyebabku aku agak seret untuk rutin menulis blog.

Pertama, TIKTOK DAN NETFLIX LEBIH MENARIK
Ternyata dunia sosial media, tiktok, dan semacamnya yang riuh dengan berbagai macam berita gosip maupun yang agak berat macam perpolitikan atau ekonomi, sudah berhasil merebut perhatianku untuk malas menulis. Alih-alih berbagi cerita atau wawasan yang aku geluti ke dalam blog, eh, malah tenggelam dalam lautan polemik perseteruan “siapa bapak dari Ressa Rosano, anak Denada”. Dyarr! Padahal dalam hati aku sering kesal saat menjumpai betapa merosotnya daya literasi generasi sekarang. Membaca takarir (caption) dari sebuah tayangan atau foto instagram saja seringkali abai digantikan komen: “Ya sudah ,ini intinya apa?”. Atau tulisan yang jelas-jelas tersemat di slide atau video , bisa-bisanya mereka masih bertanya: “Lokasi dimana?” , “Siapa sih yang ngomong?”, “Spill alamat!” (ingin rasanya kusentil tembolok klean wahai netizen budiman). Ditambah aplikasi bernama NETFLIX yang sukses merayuku untuk berpaling dari aktivitas menulis blog, digantikan dengan mantengin abang Cak Imin eh Lee Chae Min.

Bagaimana pula jika mereka membaca tulisan yang lebih panjang seperti blog? Seolah-olah kata-kata panjang dianggap berisik, padahal yang sebenarnya gaduh adalah konten instan yang berteriak tanpa isi. Kenyataannya, Blog dalam opiniku menjadi media nomer kesekian untuk disimak para pelahap konten, karena lebih mudah mencerna berita-berita sampah daripada pengetahuan dan wawasan yang diperoleh dari pencarian dan pengalaman personal.
Kedua, BLOG PELAN-PELAN TERSINGKIRKAN,
“Menurut keyakinan saya” ( Panji-Mens Rea-mode on) bukan karena kalah mutu, tapi karena menolak “diperas” menjadi beberapa gelintir kalimat dan satu kesimpulan palsu seperti layaknya berita-berita click bait yang gentayangan. Sebenarnya jika mau introspeksi diri, ini cukup menyedihkan. Aku bisa dikatakan dibesarkan dari ajang penulisan lomba blog. Yak, throwback ke masa lalu, dimana lewat menulis blog, berhasil mendongkrak kePEDEanku bahwa aku ternyata bisa menulis. Seperti yang pernah kuceritakan pada postinganku awal-awal kemunculan blog archabella.com ini , bahwa aku berhasil meraih juara ke-3 dalam lomba blog yang digagas oleh weddingku.com. Sebuah platform yang berniche tentang seputar pernikahan yang masih tetap tersohor hingga sekarang dan merambah dalam berbagai lini. Lumayan juga , kalung platinum bertatahkan berlian itu meluncur dileherku.
Dan tema blog tahun ini seperti mencubit Lobus Temporalku yang berfungsi mengingatkan aku tentang jasa blog yang berperan besar dalam kemampuanku menulis, tapi kenapa sekarang tega-teganya melupakannya? Bagaikan Denada yang lupa sudah melahirkan sebelum Aisyah ajah (halahh, balik mrono meneh?).
Lobus temporal terletak di sisi otak dan berperan dalam pendengaran, memori jangka panjang, dan pengenalan wajah. Bagian ini juga terlibat dalam pemahaman bahasa.

Ketiga, TERNYATA GAYA DAN KARAKTER PEMBACA MENGALAMI PERUBAHAN DALAM 1 DEKADE INI
Kalau 2 faktor diatas lebih ke faktor intern yaitu hambatan yang muncul dari diriku, yang ini lebih ke faktor ekstern. Di era ini, ‘kedalaman’ harus bersaing dengan scroll refleks, dan berpikir lama dianggap bug, bukan fitur.
Dahulu, sepuluh tahun yang lalu, menulis blog adalah tentang membangun rumah. Setiap kata adalah batu bata, dan setiap paragraf adalah jendela tempat orang-orang bersedia berhenti sejenak untuk melongok ke dalam isi kepala kita. Kita adalah pemilik kedai kopi di gang sempit internet, di mana pengunjung datang bukan karena terburu-buru, melainkan karena mereka haus akan cerita yang mengalir lambat. Ada keajaiban dalam menunggu halaman dimuat, ada kejujuran dalam kotak komentar yang panjang, dan ada persahabatan yang lahir dari tautan ke sesama penulis. Namun kini, waktu seolah kehilangan kesabarannya.
Dunia telah berpindah ke etalase yang lebih berkilau. Narasi yang panjang dan kontemplatif kini terasa seperti surat cinta yang salah alamat di tengah kerumunan yang hanya punya waktu lima detik untuk jatuh cinta. Algoritma kini menjadi hakim, dan kecepatan adalah satu-satunya hukum yang ditaati. Blog kini terasa seperti perpustakaan tua yang sunyi di tengah kota yang penuh lampu neon. Debu mulai hinggap di sudut-sudut tulisan, dan langkah kaki pengunjung semakin jarang terdengar. Orang-orang lebih memilih fragmen gambar yang melintas cepat daripada menyelami samudera makna yang kita susun dalam beribu-ribu karakter.
Meski begitu, bagi kita yang masih bertahan, blog adalah pelabuhan terakhir dari kemandirian berpikir. Di sini, kita tidak mengejar jumlah jempol yang terangkat atau durasi tayang yang singkat. Kita menulis karena ada sesuatu yang menuntut untuk diabadikan—sesuatu yang tidak akan cukup jika hanya diringkas dalam satu caption instan.
Sepuluh tahun telah berlalu. Menulis blog mungkin terasa semakin ditinggalkan oleh orang banyak, tetapi ia justru menjadi semakin berarti bagi mereka yang masih percaya bahwa ada hal-hal di dunia ini yang tidak bisa diburu-buru, dan ada keindahan yang hanya bisa ditemukan dalam ketekunan membaca. Kita adalah penjaga api di tengah badai visual. Dan selama jemari masih ingin menari di atas tuts keyboard, rumah ini tidak akan pernah benar-benar mati.
Kemenangan Yang Misterius Dalam Setiap Penulisan Lomba Blog Yang Kuikuti
Juara 1 Disaat 10 Tahun Lalu- 2016
Kembali ke dalam kilas balik 10 tahun lalu, ingatanku terlempar disaat aku menerima kemenangan dari sebuah lomba di ajang penulisan tingkat nasional yang diadakan oleh majalah Femina dalam sebuah lomba berjudul “Writing Competition Femina-BPTN Sinaya”. Siapa sih yang tidak kenal dengan majalah satu itu dengan slogannya “Gaya Hidup Masa Kini”. Bermula dari keisengan menulis dari cerita suami yang tidak sengaja ketemu “manusia spesial”, kemudian aku tuangkan kedalam rubrik “Gado-gado Femina” . Tak disangka aku meraih juara pertama, dan kemudian diundang ke Jakarta full ditanggung akomodasi dan transportasi dengan pesawat ulang-alik , masih pula diganjar dengan uang sejumlah 5 juta rupiah yang kala itu (2016) cukup besar nilainya buatku.
Menginapnya pun gak tanggung-tanggung, tidak cuma di hotel mewah, namun di apartemen prestisius di daerah Kuningan, Jakarta dengan 3 kamar yang kutempati sendirian (kebayang betapa krik-krik-kriknya). Selama 3 hari itu aku diservis dengan pelayanan luxury , bareng sosialita dan influencer Jakarta kala itu, menuju ke Sukabumi . Disana kami berkunjung ke perajin tenun sutra Wignyo Rahadi yang merupakan langganan Bapak Presiden kita kala itu, Pak SBY.
Ini kisahnya saat itu yang kutulis dalam 2 seri. Pengalaman Menulis Menang Gado-Gado Femina tahun 2016.
Wignyo Rahadi adalah perancang busana, pengusaha, dan penggiat pelestarian tekstil Indonesia yang dikenal melalui karyanya dalam mengembangkan desain kontemporer berbasis wastra tradisional. Ia merupakan pendiri Tenun Gaya pada tahun 2000, sebuah rumah mode di Jakarta yang berfokus pada pengembangan kain tenun alat tenun bukan mesin (ATBM) serta revitalisasi wastra Indonesia dalam busana siap pakai modern. (wikipedia)


Juara 1 Bersama 2 Yang Lain 10 tahun Kemudian- 2025
Sepuluh tahun berlalu terhitung dari tahun 2015 sejak pengumuman lomba Penulisan diMajalah Femina, tepatnya tahun 2025 kemarin, Puji Tuhan aku dianugerahi juara 1 (bersama 2 orang yang lainnya- karena memang tidak ada juara ke-2 dan ke-3 nya, hadiahnya semua sama).
Sejatinya kalau boleh dikatakan, kemenangan-kemenangan yang kudapatkan ini misterius, karena lahir dari “rasa sungkan”. Aku sih masih berpikir ini semua faktor luck aja yang sedang hinggap padaku. Sungkan-Luck? Baiklah kuceritakan.
Jadi waktu itu, ada lomba penulisan tentang laptop ASUS yang akan segera dilaunching. Tetiba aku tak sengaja membaca pengumuman lomba blog diInstagram mbak Katerina (Travelerien) yang kebetulan sebagai koordinatornya. Beliau menyemangatiku untuk ikutan lomba, padahal sejujurnya aku tidak yakin bisa dapat nomer apapun, saking skeptisnya karena pasti nama-nama orang-orang itu melulu yang akan muncul.
Hanya berpegang rasa sungkan, aku menulis blog tentang brand ASUS tersebut, tanpa memikirkan bisa menorehkan prestasi apapun. Just writing and forget it. Tak disangka-sangka, aku malah mendapatkan laptop AI yang kuidam-idamkan, karena berhasil menduduki juara pertama , beserta 2 orang lainnya yang sama-sama mendapatkan laptop tipe serupa.
Benar-benar blessing in disguise, sesuatu yang tidak disangka. Tuhan sepertinya tahu kalau laptop lamaku sudah butut, kubeli lebih dari 5 tahun lalu, di ITC Mangga Dua dari lapak barang bekas pakai. Jadi Laptop baruku yang aku gauli sekarang ini adalah hadiah dari lomba ASUS baru-baru ini.
Tulisanku yang membawa kemenangan itu bisa dibaca di: ASUS Zenbook S14 OLED: Laptop AI Ultra Ringan – Performa Puncak.

Prinsip “Nothing To Lose” Menyadarkanku Bahwa Menulis Blog Masih Kurindukan
View this post on Instagram
Berbekal prinsip “Nothing To Lose” alias tidak berharap lebih dalam setiap kompetisi yang kuikuti, justru malah membawaku dalam kemenangan yang tak terduga. Tema Blog dalam rangka Ultah Gandjel Rel yang ke 11 ini ternyata mampu menggiringku untuk kembali mengingat, bahwa “Ngeblog ben Ra Ngganjel” sesuai slogannya, masih sangat relevan aku akrabi.
Ada nilai-nilai nostalgic namun menginspirasi bahwa menulis blog jangan sampai kutinggalkan walaupun pembaca diluar sana sudah eksodus menjadi bala-bala tiktokers dan netizen. Kilas balik #2016 ini membuat aku merenung, agar aku tidak tumpul dengan hanya membuka gambar dan video orang lain, tapi melupakan untuk mengasah kemampuan menulisku.
Prinsip “Nothing To Lose” akan selalu aku usung. Aku tidak peduli tulisanku ada yang membaca atau tidak. Yang terpenting, harus ada kontribusi yang bermanfaat bagi pembaca sehingga bisa menjadi inspirasi . Tidak juga untuk mengejar menang lomba . Just write, do it and be consistent, itu saja yang harus aku terapkan walaupun kenyataannya cukup sulit, tapi memang harus dipaksa. Jika ternyata nyangkut dimeja penjurian untuk menang, anggap aja itu sebagai bonus Tuhan semesta raya.
Tak disangkal, akhir-akhir ini kesibukanku memang sedang beralih untuk membuat konten lewat media Tiktok atau Instagram. Memang aku tidak bisa menutup mata, 2 portal itu yang sedang tren saat ini. Berulang kali mengedit konten video , ternyata kejenuhan sudah mulai merambatiku. Ingin sejenak lepas dari kungkungan tugas konten yang membelenggu dan berkejaran disergap dateline. Ketukan jemari diatas tuts keyboard kala menulis ratusan bahkan ribuan huruf dalam sebuah postingan blog ternyata masih kurindukan. Menulis blog justru menjadi respirator , membantu piranti nafasku yang acapkali “megap-megap” butuh healing dari kejenuhan. Throwback 10 tahun lalu sebagai tema tulisan jelang ultah Blogger Gandjel Rel ini sukses memompa niatku yang kemarin kempes teronggok diruang kosong.
Akhir kata, Selamat Ulang Tahun Blogger Gandjel Rel yang selama ini sudah membersamaiku. Semoga semakin banyak kiprahnya diluar sana, mampu bersaing dengan media digital yang ganas-ganas dan seringkali “kurang waras” karena ” sering dipelintir” , 1+1 =2. 11 x 11 =121. (jadi inget Bobby). Semoga komunitas Gandjel Rel semakin menggurita anggota-anggotanya disemesta raya. Amin.








